Senin, 16 November 2009

Transplantasi: '118 Hari tanpa Jantung Sungguh Mengerikan'

D'Zhana Simmons (14) tidak kuasa membendung air mata. Remaja putri asal South Carolina, Amerika Serikat ini menuturkan hidup 118 hari tanpa jantung adalah pengalaman mengerikan.

"Saya tidak akan pernah tahu kapan alat ini berhenti berfungsi. Saya seperti orang yang palsu. Seperti tidak benar-benar hidup, tapi saya tetap ada," kata Simmons saat konferensi pers di Jackson Memorial Medical Center, University of Miami, Kamis (20-11).

Simmons menderita pembesaran cardiomyopathy, kondisi saat jantung pasien menjadi lemah dan membesar dan tidak mampu memompa darah dengan semestinya. Remaja itu menjalani transplantasi jantung pada 2 Juli lalu di Rumah Sakit Anak Holtz, Miami. Namun, jantung baru tersebut gagal berfungsi sehingga segera diangkat kembali.

Sembari menunggu transplantasi kedua, tim dokter memasang dua pompa jantung di tubuh Simmons agar aliran darahnya tetap mengalir. Alat untuk memompa darah dirancang khusus perusahaan Thoratec Corp of Pleasanton California dan ditanamkan untuk menjaga kestabilan aliran darah dalam tubuhnya.

Pompa jantung itu dipasang hampir empat bulan, tepatnya 118 hari. Hingga kemudian dokter memasang jantung baru pada 29 Oktober lalu. "Dia pada dasarnya hidup selama 118 hari tanpa jantung dengan sirkulasi darahnya cuma ditunjang dua pompa darah itu," kata Dr. Marco Ricci, Direktur Bedah Jantung Anak di rumah sakit tersebut.

Selama waktu itu, Simmons bisa bergerak, tapi harus terus berada di rumah sakit. Kini, setelah transplantasi jantung, Simmons senang karena dia bisa hidup tanpa mesin pemompa darah.

Tim dokter mengatakan sebenarnya ini bukan kasus pertama di dunia. Seorang warga Jerman juga pernah hidup tanpa organ jantung dan hanya mengandalkan bantuan alat pompa selama sembilan bulan. Namun, untuk kasus anak-anak, ini merupakan yang pertama di dunia dan Simmons mampu bertahan selama itu.

Menurut para dokter, kondisi Simmons kini baik. Namun, dokter mengingatkan kemungkinan besar pasien transplantasi jantung akan membutuhkan jantung baru pada 12--13 tahun setelah transplantasi pertama. n U-1

Sumber :
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008112100150221
21 November 2008

Pertama di Asia, India Sukses Transplantasi Jantung Buatan

Sebuah rumah sakit di India sukses melakukan operasi transplantasi jantung buatan pada seorang pria berusia 54 tahun. Operasi ini merupakan yang pertama kali terjadi di Asia.

Para ahli bedah di RS Narayana Hrudayalaya, Bangalore memasang jantung buatan tersebut, ventricular assist device (VAD) dalam operasi yang berlangsung selama 4 jam. Operasi itu dilaksanakan dengan bimbingan tim pakar AS.

Demikian disampaikan kepala rumah sakit Devi Shetty seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (10/4/2008).

"VAD merupakan pompa centrifugal sederhana yang menyedot darah dari jantung dan memompanya ke dalam aorta," kata Shetty. "Itu bisa memompa 10 liter darah setiap menit, dibandingkan empat atau lima liter normalnya, jadi ini cukup kuat," imbuhnya.

Para ahli bedah di AS dan Eropa telah memasang jantung buatan "generasi baru" tersebut pada 220 pasien dalam 8 tahun terakhir. Namun operasi di Bangalore ini merupakan operasi sejenis yang pertama di Asia.

Pasien bernama Venkatakrishniah mengalami serangan jantung pada tahun 2003. Dia terpaksa berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan negara karena tidak mampu bekerja meski telah menjalani operasi bypass.

"Setelah operasi bypass, kondisi saya memburuk dan saya tak bisa berjalan enam langkah," kata Venkatakrishniah seperti dikutip koran Times of India. "Tapi sekarang saya bisa berjalan, naik tangga dan bahkan saya berencana untuk kerja lagi," tandasnya. (ita/nrl)

Sumber :
Rita Uli Hutapea
http://www.detiknews.com/read/2008/04/10/155535/921539/10/pertama-di-asia-india-sukses-transplantasi-jantung-buatan
10 April 2008

Asal-Usul Transplantasi Jantung

TRANSPLANTASI atau cangkok jantung pertama di dunia dilakukan dokter Christiaan Barnard (1922-2001) di Rumah Sakit Groote Schuur di Cape Town, Afrika Selatan atas pasien Louis Washkansky (1913-1967) tanggal 3 Desember 1967. Washkansky meninggal dunia 18 hari kemudian, bukan karena persoalan jantung baru yang diterimanya melainkan disebabkan serangan pneumonia (radang paru-paru).

Pendonor jantung untuk operasi tersebut adalah Louise Darvall (1943-1967) yang meninggal setelah mengalami kecelakaan lalu-lintas di dalam mobil.

Sebelumnya, tanggal 23 Januari 1964, Boyd Rush menjadi pasien cangkok jantung pertama. Saat itu dia menunggu donor jantung manusia, tetapi mengalami gagal jantung sebelum menerima organ yang ditunggu. Untuk menyelamatkan nyawanya, pakar bedah Amerika Serika dokter James D. Hardy (1903-1987) mencangkokan jantung Simpanse ke tubuh Boyd Rush. Jantung baru tersebut segera berfungsi mengganti jantung manusia yang telah rusak, tetapi dalam beberapa jam, tubuh Boyd Rush menolak jantung Simpanse. Boyd Rush pun meninggal.

Sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/18/22474636/asal-usul.transplantasi.jantung.
18 Oktober 2008

Transplantasi Ginjal

Transplantasi (cangkok) ginjal adalah proses pencangkokan ginjal ke dalam tubuh seseorang melalui tindakan pembedahan. Ginjal baru bersama ginjal lama yang fungsinya sudah memburuk akan bekerja bersama-sama untuk mengeluarkan sampah metabolisme dari dalam tubuh.

Proses Transplantasi Ginjal

Dokter bedah akan meletakkan ginjal di dalam perut sebelah bawah, kemudian menghubungkan pembuluh darah dan saluran kencing (ureter) ginjal baru tersebut ke pembuluh darah dan ureter penderita. Setelah terhubung, ginjal akan dialiri darah yang akan dibersihkan. Air kencing (urine) biasanya langsung diproduksi. Tetapi beberapa keadaan, urine diproduksi bahkan setelah beberapa minggu.

Ginjal lama kita yang dua buah akan dibiarkan di tempatnya. Tetapi jika ginjal tersebut menyebabkan infeksi atau menimbulkan penyakit darah tinggi, maka harus diangkat.

Persiapan Transplantasi

Bicarakan dengan dokter anda mengenai transplantasi yang akan dijalani, karena tidak semua orang cocok untuk transplantasi. Beberapa kondisi dapat membuat proses transplantasi berbahaya atau tidak mungkin berhasil.

Ginjal baru dapat diperoleh dari donor yang baru saja meninggal dunia, atau dari donor hidup. Donor hidup bisa keluarga, bisa juga bukan - biasanya pasangan atau teman. Jika anda tidak memiliki donor hidup, anda akan dimasukkan ke dalam daftar tunggu untuk memperoleh ginjal dari donor meninggal. Masa tunggu tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun.

Petugas transplantasi akan mempertimbangkan tiga faktor untuk menentukan kesesuaian ginjal dengan penerima (resipien). Faktor tersebut akan menjadi tolak ukur untuk memperkirakan apakah sistim imun tubuh penerima akan menerima atau menolak ginjal baru tersebut.

1. Golongan darah. Golongan darah penerima (A,B, AB, atau O) harus sesuai dengan golongan darah donor. Faktor golongan darah merupakan faktor penentu kesesuaian yang paling penting.

2. Human leukocyte antigens (HLAs). Sel tubuh membawa 6 jenis HLAs utama, 3 dari ibu dan 3 dari ayah. Sesama anggota keluarga biasanya mempunyai HLAs yang sesuai. Resipien masih dapat menerima ginjal dari donor walaupun HLAs mereka tidak sepenuhnya sesuai, asal golongan darah mereka cocok, dan tes lain tidak menunjukkan adanya gangguan kesesuaian.

3. Uji silang antigen. Tes terakhir sebelum dilakukan pencangkokan adalah uji silang organ. Sejumlah kecil darah resipien dicampur dengan sejumlah kecil darah donor. Jika tidak terjadi reaksi, maka hasil uji disebut uji silang negatif, dan transplantasi dapat dilakukan.

Pembedahan untuk cangkok ginjal biasanya memakan waktu 3 sampai 4 jam. Lama rawat di rumah sakit biasanya adalah satu minggu. Setelah keluar dari rumah sakit, resipien masih harus melakukan kunjungan secara teratur untuk memfollow-up hasil pencangkokan.

Sedangkan bagi pendonor hidup, waktu yang dibutuhkan hampir sama dengan resipien. Walaupun demikian, karena teknik operasi untuk mengangkat ginjal donor semakin maju, maka waktu rawat menjadi lebih pendek, mungkin 2 sampai 3 hari.

Komplikasi

Setelah transplantasi, dokter akan memberikan penderita obat imunosupresan, yang berguna untuk mencegah reaksi penolakan, yaitu reaksi dimana sistem tubuh menyerang ginjal baru yang dicangkokkan. Obat imunosupresan harus diminum setiap hari selama ginjal baru terus berfungsi. Kadang-kadang, reaksi penolakan tetap terjadi walaupun penderita sudah minum obat imunosupresan. Jika hal ini terjadi, penderita harus kembali menjalani dialisis, atau melakukan transplantasi dengan ginjal lain.

Obat imunosupresan akan melemahkan daya tahan tubuh, sehingga dapat mempermudah timbulnya infeksi. Beberapa jenis obat imunosupresan juga dapat merubah penampilan. Wajah akan tampak lebih gemuk, berat badan bertambah, timbul jerawat, atau bulu di wajah. Tetapi tidak semua resipien mengalami gejala tersebut. Selain itu, imunosupresan juga dapat menyebabkan katarak, diabetes, asam lambung berlebihan, tekanan darah tinggi, dan penyakit tulang.

Keuntungan Transplantasi Ginjal:

1. Ginjal baru akan bekerja seperti halnya ginjal normal.
2. Penderita akan merasa lebih sehat dan "lebih nomal".
3. Penderita tidak perlu melakukan dialisis
4. Penderita yang mempunyai usia harapan hidup yang lebih besar.

Kekurangan Transplantasi Ginjal :
1. Butuh proses pembedahan besar.
2. Proses untuk mendapatkan ginjal lebih sulit atau lebih lama.
3. Tubuh menolak ginjal yang dicangkokkan.
4. Penderita harus rutin minum obat imunosupresan, yang mempunyai banyak efek samping.


Sumber :
Paisal
http://www.wartamedika.com/2008/04/transplantasi-ginjal.html
2 April 2008

Transplantasi Ginjal (Cangkok Ginjal)

Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara "memanfaatkan" sebuah ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses pendonoran) melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru saja meninggal (donor kadaver). Ginjal ‘cangkokan’ ini selanjutnya akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak.

Kedua ginjal lama, walaupun sudah tidak banyak berperan tetap berada pada posisinya semula, tidak dibuang, kecuali jika ginjal lama ini menimbulkan komplikasi infeksi atau tekanan darah tinggi.


Bagaimana Cara Kerja Transplantasi Ginjal?

Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 6 jam. Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari ginjal ‘baru’ ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Ureter (saluran kemih) dari ginjal baru dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar.


Siapa saja yang dapat menjalani transplantasi ginjal?

Transplantasi ginjal tidak dapat dilakukan untuk semua kasus penyakit ginjal kronik. Individu dengan kondisi, seperti kanker, infeksi serius, atau penyakit kardiovaskular (pembuluh darah jantung) tidak dianjurkan untuk menerima transplantasi ginjal karena kemungkinan terjadinya kegagalan yang cukup tinggi.


Pasca Transplantasi Ginjal

Transplantasi Ginjal dinyatakan berhasil jika ginjal tersebut dapat bekerja sebagai ‘penyaring darah’ sebagaimana layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan tindakan Dialisis (cuci darah).


Mencegah Reaksi Penolakan (Rejeksi) terhadap Ginjal 'Baru'

Karena ginjal ‘baru’ ini bukan merupakan ginjal yang berasal dari tubuh pasien sendiri, maka ada kemungkinan terjadi reaksi tubuh untuk menolak ‘benda asing’ tersebut.

Untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan ini, pasien perlu mengonsumsi obat-obat anti-rejeksi atau imunosupresan segera sesudah menjalani transplantasi ginjal. Obat-obat imunosupresan bekerja dengan jalan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi risiko terjadinya reaksi penolakan tubuh terhadap ginjal cangkokan.


Efek Samping Imunosupresan

Obat imunosupresan dapat membuat sistem imun (daya tahan tubuh terhadap penyakit) menjadi lemah sehingga mudah terkena infeksi. Efek samping lainnya dari imunosupresan: wajah menjadi bulat, berjerawat, atau tumbuh bulu-bulu halus pada wajah, juga dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Beritahu dokter jika Anda mengalami efek-efek samping seperti ini untuk segera ditangani secara tepat.


Apa yang Perlu Anda Lakukan?

Makanlah obat-obatan sesuai anjuran dokter Anda.
Periksa ke dokter secara rutin untuk menilai fungsi ginjal baru dan efek/khasiat obat-obat imunosupresan yang Anda gunakan.

Sumber :
http://www.sahabatginjal.com/display_articles.aspx?artid=13

Ulama Mesir Bolehkan Transplantasi Organ Tubuh Orang Meninggal

Ulama Mesir yang tergabung dalam Lembaga Riset Islam-Republik Arab Mesir pada penutupan muktamarnya yang ke-XIII, Rabu (12/3), menetapkan sebuah hukum tentang pengambilan organ tubuh manusia yang sudah meninggal untuk dicangkokkan dengan organ tubuh seseorang yang menderita penyakit kronis.

Hukum transplantasi atau pencangkokkan organ tubuh orang yang sudah meninggal itu diperbolehkan apabila sudah memenuhi syarat-syarat berikut: (1) Dokter sudah memutuskan urgensitasnya dan kondisi kesehatan yang amat mendesak hingga terpaksa melakukan transplantasi. (2) Ada wasiat dari sang mayat bahwa bagian dari anggotanya boleh diambil untuk menyelamatkan nyawa orang lain ketika dia masih hidup, direstui orang tua sang mayat untuk pengambilan itu, atau telah diizinkan wakil dari sang mayat yang sah menurut syariat. Jika tidak memenuhi salah satu dari ketiganya, maka diperbolehkan bagi Pemimpin orang Islam untuk memberikan restu transplantasi.

Demikian juga ulama memperbolehkan pengambilan organ tubuh manusia yang telah dieksekusi hukuman mati untuk dicangkokkan, dengan syarat seperti yang sudah ditentukan tadi. Proses pengambilan kesimpulan hukum oleh Lembaga Fatwa Islam yang dihadiri kalangan dokter tersebut, berlangsung cukup alot. Pada bagian terakhir dari rangkain acara muktamar, Prof. Dr. M. Sayyid Thantawi, menekankan kepada para undangan yang hadir tentang kasus mati klinis atau yang dikenal dengan mati somatis yaitu berhentinya fungsi ketiga organ fital seperti susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernafasan, tapi organ-organ penunjang kehidupan tersebut masih bisa digunakan, contohnya dicangkokkan ke dalam bagian organ seseorang yang menderita penyakit kronis tadi.

Imam Besar sekaligus Syaikh Universitas Al-Azhar, itu mengingatkan pula bahwa dalam hukum Islam, penetapan orang meninggal ditentukan jika sudah memenuhi dua syarat. Pertama, jika hati dan nafas sudah dipastikan tidak berfungsi. Kedua, berhentinya seluruh fungsi otak hingga mencapai titik nadirnya setelah ada ketentuan dari ahli kedokteran.

Sementara itu, muktamar Lembaga Riset Islam yang berada di bawah naungan Universitas Al-Azhar, itu menetapkan syarat bahwa organ yang akan dicangkokkan harus atas dasar sumbangan (donor), sebagai bentuk saling tolong-menolong antarsesama dan tanpa ada paksaan. Dijelaskan pula bahwa pengambilan organ orang yang akan dicangkokkan itu bukan atas dasar jual-beli, karena jual-beli organ tubuh manusia termasuk perdagangan yang dilarang dalam hukum Islam. (ahram/din)

Sumber :
http://qalamonline.net/2009/04/03/ulama-mesir-bolehkan-transplantasi-organ-tubuh-orang-meninggal/
3 April 2009

RSHS Belum Berani Lakukan Transplantasi Organ

Meski dari sisi medis, dokter dan fasilitas sudah memadai namun RSHS belum berani melakukan transplantasi organ. RSHS terakhir kali melakukan operasi transplantasi organ tubuh puluhan tahun lalu.

"Kita punya ahli dan alatnya, yang belum ada keberaniannya. Malahan RS Swasta yang sudah berani," ujar Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Rizal Chaidir, yang akrab dipanggil Deis ini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/10/2009).

Menurut Deis, RSHS terakhir kali melakukan operasi transplantasi puluhan tahun lalu.

Padahal, aku Deis, dirinya menginginkan RSHS pada tahun-tahun ini dapat melakukan transplantasi organ tubuh, karena baik dari sisi medis, dokter dan fasilitas, sudah mencukupi untuk melakukan operasi transplantasi organ.

Dikatakan Deis, di Indonesia belum ada hukum yang mengatur tentang donor organ tubuh, padahal di negara-negara lain sudah ada undang-undang yang mengatur hal tersebut. Misalnya di Filipina, ada UU yang mengatur pendonoran organ tubuh oleh tahanan, baik yang dihukum mati ataupun seumur hidup.

Sedangkan di Singapura ada catatan atau perjanjian dimana orang tersebut sudah menuliskan, jika dirinya meninggal ada organ tubuh yang dia donorkan.

"Kalau di Indonesia belum ada, mungkin yang ada baru kornea mata," jelasnya. (ema/ern).

Sumber :
Tya Eka Yulianti - detikBandung
http://bandung.detik.com/read/2009/10/19/154429/1224291/486/rshs-belum-berani-lakukan-transplantasi-organ
19 Oktober 2009